Alternatif Pacaran: Jodohan?

Intro

Teman saya menulis blog berjudul “Pacaran? Basi Tau!“. Setelah itu dia memberikan ke saya artikel-artikel dengan judul “Tidak Ada Pacaran Islami (Between Myth and Fact)” dan “TERNYATA (KATANYA) PACARAN ISLAMI ITU ADA LHO!”.

Tulisannya dan artikel-artikel tersebut membuat saya berpikir untuk yang kesekian kalinya tentang masalah ini. Pertanyaan yang selalu muncul adalah “Sebetulnya apa masalah sebenarnya?” dan “Ada nggak solusi Islaminya?”. Blog ini adalah rangkuman usaha saya untuk menjawab dua pertanyaan tersebut.

Kenapa Orang Berpacaran?

Dalam kehidupan sehari-hari, umumnya laki-laki berinteraksi dengan perempuan. Kalaupun tidak terjadi interaksi, terdapat banyak saat di mana laki-laki melihat perempuan dan sebaliknya (baik disengaja maupun tidak). Hal-hal yang telah disebutkan bisa menyebabkan seseorang tertarik ke lawan jenisnya. Tingkat ketertarikannya bisa beragam, namun setelah mencapai tingkat tertentu ketertarikan itu dinamakan orang sebagai “jatuh cinta”. Untuk memudahkan pembahasan ini, saya akan menggunakan istilah “pemimpi” untuk orang yang jatuh cinta dan “kekasihnya” untuk orang yang dicintai oleh pemimpi.

Sebetulnya apa yang diinginkan oleh pemimpi? Saya mengklaim bahwa tujuan pemimpi adalah MENIKAHI kekasihnya. Ingatlah tujuan tersebut baik-baik sebab itu akan menjadi acuan pembicaraan kita.

Sayangnya, bagi kebanyakan pemimpi terdapat halangan-halangan untuk menikah. Ada dua halangan yang bisa saya sebutkan di sini. Yang pertama adalah halangan finansial. Coba pikirkan mereka yang bersekolah di SMP, SMU, dan universitas. Sebagian besar dari mereka (atau kekasihnya) tidak akan mampu untuk menghidupi sebuah keluarga. Yang kedua adalah halangan umur. Menurut pemimpi, umurnya (atau kekasihnya) masih terlalu muda untuk bisa melakukan pernikahan yang diterima masyarakat.

Lalu apa solusi dari kedua masalah tersebut? Salah satu jawaban yang jelas adalah MENUNGGU. Seiring berjalannya waktu, pemimpi (beserta kekasihnya) akan bertambah umur dan (harapannya) mendapat pekerjaan. Lalu pemimpi bisa mengajak kekasihnya menikah.

Tapi tidak, kebanyakan pemimpi tidak menunggu! Mereka malah memulai dan menjalani hubungan yang disebut pacaran. Kenapa?

Alasannya sangat mudah dan sederhana: KEPEMILIKAN. Kalau kita pikirkan, pernikahan menjamin kepemilikan. Kalau pemimpi menikah dengan kekasihnya, maka mereka tidak akan menikah dengan orang lain (saya mengabaikan poligami dan poliandri untuk mempermudah pembicaraan kita).

Jadi, kalau pemimpi tidak bisa memiliki kekasihnya dalam ikatan pernikahan, dia akan mencari “hubungan sosial lain” yang juga menjanjikan kepemilikan (walupun dalam bentuk yang lebih lemah dari pernikahan). Ini untuk MENCEGAH kekasihnya dimiliki orang lain lebih dulu. Saat ini “hubungan sosial lain” yang tersedia adalah pacaran, maka merebaklah pacaran.

Rangkuman: Orang-orang berpacaran sebab mereka belum siap menikah namun tetap ingin memiliki kekasihnya. Dengan kata lain, mereka ingin mencegah kekasihnya dimiliki orang lain sebelum mereka sendiri bisa menikahinya.

Masalah pada Istilah “Pacaran”?

Pacaran (sebagaimana yang dilakukan banyak orang) berisi banyak aktivitas yang sebetulnya dilarang Islam: berdua-duaan, berpegangan tangan, berpelukan, dst. Ini berakibat bahwa saat dua orang berada dalam status “berpacaran”, terdapat “image” atau ekspektasi dari orang lain bahwa pasangan tersebut melakukan hal-hal yang telah disebutkan. Ini juga berakibat bahwa saat pemimpi “menembak” kekasihnya, kekasihnya berpikir bahwa mereka nanti akan melakukan hal-hal tersebut kalau sang kekasih menerima menjadi pacarnya.

Jadi, ikhwan yang mencintai seorang akhwat tapi belum siap menikah akan berhadapan dengan suatu dilema. Kalau ikhwan tersebut menunggu sampai siap, bagaimana kalau akhwat tersebut dinikahi orang lain lebih dulu? Untuk akhwat yang mencintai seorang ikhwan, pertanyaannya menjadi “Apakah dia akan memilih saya untuk menikah?”.

Bisa saja ikhwan dengan akhwat “berpacaran” dengan batasan-batasan tertentu agar “Islami”. Misalnya, dalam “berpacaran” tidak berduaan, bersentuhan, dsb. Sepertinya “pacaran” seperti itulah yang dimaksud saat orang mengatakan “pacaran Islami”. Tapi saya rasa ini lucu sebab istilah “pacaran” sudah begitu melekat dengan hal-hal seperti berduaan, bersentuhan, dsb. “Pacaran Islami” kedengarannya seperti suatu oxymoron.

Secara pelaksanaan, istilah “pacaran Islami” juga tidak begitu membantu saat pemimpi ingin “menembak” kekasihnya. Untuk mengajak pacaran (non-Islami) pemimpi tinggal mengatakan “Kamu mau nggak jadi pacarku?”. Simpel. Kalau ingin pacaran Islami, apakah harus mengatakan “Kamu mau nggak jadi pacarku? Tapi yang Islami. Maksudnya begini…”. Ukh, terlalu ribet.

Daripada menggunakan istilah “pacaran Islami”, bagaimana kalau digunakan istilah lain yang sama sekali tidak menggunakan kata “pacaran”? Kita didefinisikan dengan jelas maksud istilah baru tersebut lalu disosialisasikan.

Solusi: Hubungan Sosial Baru, Istilah Baru

Masalahnya telah ditemukan. Bagi kebanyakan pemimpi, pernikahan diinginkan namun tidak memungkinkan. Walaupun begitu mereka tetap menginginkan suatu bentuk kepemilikan (seberapapun lemahnya) sampai mereka bisa melangsungkan pernikahan. Satu-satunya alternatif yaitu “pacaran” menyulitkan mereka yang ingin Islami karena batasan “pacaran” tidak pernah jelas dan karena “pacaran” sebagaimana yang dilakukan banyak orang jelas-jelas tidak Islami. Kalau begitu, solusinya ya menciptakan jenis hubungan baru yang memberikan suatu bentuk kepemilikan namun tetap Islami.

Idealnya, hubungan jenis baru ini memiliki nama yang orisinil. Sayangnya saya tidak mendapatkan ide yang bagus (”racap”, kebalikan dari “pacar”, kedengarannya sangat jelek). Untuk itu saya akan menggunakan istilah yang sudah ada yaitu “jodoh”. Hubungan baru tersebut dideskripsikan pada dokumen berikut:

== Dokumen Panduan Perjodohan ==

1) Nama

“Jodoh” adalah nama relasi antara dua orang sebagaimana yang dipandu dalam dokumen ini.

Contoh penggunaan katanya adalah:

“Dia adalah jodohku.”
“Kami berjodohan.”
“Kamu sudah punya jodoh belum?”

2) Makna

Dengan berjodohan, kedua belah pihak menyatakan keinginannya untuk saling menikah jika keadaannya sudah memungkinkan.

Selama berjodohan kedua belah pihak setuju bahwa hubungannya diatur oleh syariat Islam (dalam hal ini berarti hubungan antara perempuan dengan laki-laki yang bukan mukhrimnya). Beberapa contohnya adalah:

* Tidak diperbolehkan untuk berduaan
* Tidak diperbolehkan berpandang-pandangan secara berlebihan
* Tidak diperbolehkan untuk bersentuhan (termasuk di antaranya berpegangan tangan, berpelukan, dan berciuman)

Dengan berjodohan, kedua belah pihak juga setuju untuk saling mengingatkan jika interaksi mereka melanggar syariat Islam.

3) Status

Dua orang bisa menjadi jodoh jika kedua belah pihak menginginkannya dan saling menyatakan keinginannya tersebut. Status jodoh bisa hilang jika salah satu pihak menyatakan keinginannya untuk berhenti berjodohan.

Dalam prakteknya, sesorang akan mengajak atau meminta orang lain untuk menjadi jodohnya, lalu pihak lain tersebut akan memberikan jawabannya. Aksi orang yang mengajak atau meminta disebut “memanah” (analoginya adalah “menembak” untuk meminta orang lain menjadi pacar.)

Contoh memanah:

“Aku suka kamu. Kamu mau nggak jadi jodohku?”

(tidak harus tatap muka, bisa saja melalui telepon, surat, maupun SMS (atau tatap lantai/dinding/jendela))

Contoh jawaban:

“Aku juga sebetulnya suka kamu. Ya, aku mau.”
“Aku pikir-pikir dulu. Nanti kukasih jawabannya besok.”
“Maaf, tapi aku suka orang lain.”
“Maaf, tapi aku sudah berjodohan.”

(Akhir dari Dokumen Panduan Perjodohan)

Pendefinisian “jodoh” yang jelas tersebut akan memudahkan baik pemimpi maupun kekasihnya. Untuk memanah, pemimpi tinggal mengatakan, “Kamu mau nggak jadi jodohku?” tanpa perlu menyertakan penjelasan yang panjang lebar. Kekasihnya juga akan mengerti segala konsekuensi jika menerimanya, sehingga bisa membuat keputusan yang sesuai.

Salah satu kekhawatiran orang tua kalau anaknya berpacaran adalah bahwa anaknya akan kelewatan. Ini karena hubungan “pacaran” tidak memiliki batasan yang jelas, sehingga orang tua tidak akan tahu apakah anaknya yang berpacaran hanya sebatas bergandengan tangan, berpelukan, berciuman, atau malah sudah yang lebih jauh lagi. Masalah ini tidak ada pada istilah “jodoh” karena batas-batasnya telah didefinisikan dengan jelas. Kalau orang tua tahu bahwa anaknya memiliki “jodoh”, maka orang tua tersebut bisa tenang karena berdasarkan batasan “jodoh” bersentuhan pun tidak boleh dilakukan anaknya.

Dokumen panduan di atas juga tidak mendefinisikan bahwa pemanah haruslah laki-laki. Menurut saya, tidak masalah kalau perempuan yang memanah, toh yang penting nanti keduanya sama-sama setuju untuk berjodohan.

Kalau kamu setuju dengan konsep perjodohan seperti yang telah disebutkan tadi (mungkin malah ingin mencobanya), langkah terakhir yang diperlukan adalah sosialiasi istilah beserta penjelasannya. Kalaupun kamu tidak setuju, kamu mungkin ingin menyebarkan tulisan ini untuk memicu diskusi lebih lanjut. Kalau ingin sosialisasi dalam skala besar, seluruh tulisan ini bisa diforward ke forum atau milis tertentu. Bisa juga diforward ke teman-teman terdekat kamu. Kalau tujuan kamu sebatas ingin memanah seseorang, pastikan orang tersebut membaca tulisan ini sebelum memanahnya. Namun kamu harus cepat, sebab siapa tahu orang lain lebih dulu memanah dia :).

Share and Enjoy:
  • bodytext
  • del.icio.us
  • Technorati
  • Slashdot
  • StumbleUpon
  • Sphinn
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • TwitThis
  • Live

29 Responses to “Alternatif Pacaran: Jodohan?”

  1. Fuad Says:

    kenapa harus berjodohan lamar aja langsung :) untuk masalah finansial dalam islam kalau ndak salah dalam alquran ayat berapa lupa(nyambung sama ayat “nikahkanlah orang orang sendiri diantara kamu……”) yang intinya ada jaminan bahwa orang yang menikah akan dijamin rezekinya oleh ALLAH SWT. trus kalau masalah umur kan RASULULLAH SAW malah menganjurkan untuk nikah di usia muda. bahkan ada suatu riwayat dari seorang ulama(lupa ulamanya siapa) pada saat ulama tersebut melihat anaknya mandi subuh(mimpi basah untuk pertama kalinya ) keesokan harinya langsung dinikahkan. mungkin yang bisa dijadikan referensi sinetron “kiamat sudah dekat” bang fandy ama sarah.

  2. yayat Says:

    memang dilema akan status pacaran sungguh membuat pusing. konsep yang ditawarkan ketika selalu saja negative. mungkin klo konsep ini bisa dipakai bisa menjadi suatu alternative menghambat “pertambahan penduduk yang belum diinginkan”.

    sungguh saya agak terpingkal (atau bahkan …) membaca definisi dari dokumen perjodohan (dengan tidak bermaksud merendahkan tentunya).

  3. mmmmhhhhhh Says:

    Think hard……. pokoke tujuannya nikah… aja. Tahan dulu kepuasan, sesungguhnya kenikmatakn berlebih itu haram hukumnya.

  4. Singularity on the Plane » Blog Archive » How to get CakePHP up and running on Windows etc Says:

    [...] It’s interesting that a piece of writing I composed some time ago is visited a lot through a search engine.How to get CakePHP up and running on Windows - 10:22 PM 7/15/2006 [...]

  5. indra Says:

    wah, ide bagus tuh!!!ini yg saya tunggu.tapi saya kurang setuju sama pendapatnya mas Fuad.ga semua orang mau langsung ngelamar,kan lom kenal.lagipula asumsi masyarakat indonesia, klo dah ngelamar bakal dinikahi dlm wkt dekat.trus gmn ma yg masih skolah tp dah punya gebetan (org yg diharapkan berjodoh dengannya)??bisa2 keluarganya heboh donk!tapi, apa iya bakal diterima cara kayak begini?apalagi kalangan aktivis dakwah yang menganggap hubungan khusus ikhwan dengan akhwat itu adalah tabu.

  6. ido Says:

    cara beda, tujuan sama, jangan terkecoh bisa jadi menyesatkan. Cinta yang utama hanya kepada Allah SWT.
    Jangan memulai kalo belum bisa bertanggung jawab

  7. agus Says:

    pusing gua!

  8. cavity Says:

    ketika qt sudah siap knp musti menunda nikah, klo toh pd kenyatan blm siap ya alangkah baiknya jg coba2 pacaran dl….saya sepakat dg mas fuad bahwasanya Alloh akan memberikan jaminan rezeki bagi siapapun yg sudah menikah”rezeki yg tdk disangka2″…qt pun jg hrs menyadari apapun yg menurut qt baik blm tentu baik bagi Alloh begitu jg sebaliknya. kenyataan yg tidak bisa dipungkiri pada dasarnya lamanya proses pacaran itu justru bukanlah kenyamanan lahir batin utk siap menikah tp justru yang ada saling mencari kekurangan klo sudah merasa tidak cocok sedikit2 putus d mncari yg lebih. ya itulah MANUSIA……………,SO JG COBA2 PACARAN KLO BLM BERANI MEMPERTANGGUNG JAWABKAN DIHADAPAN ALLOH.OK!

  9. Pacaran=Anjing « The Satrianto Show! Says:

    [...] kita telaah dahulu kenapa orang-orang (muda) pengen pacaran. Menurut adik kelasku, Agro yang jenius, alasannya adalah sebagai berikut: Dalam kehidupan sehari-hari, umumnya laki-laki berinteraksi [...]

  10. diditjogja Says:

    nah…looo!!! ribut lage soal pacarannnn…..
    yang nggak (belon!) tergoda oleh mahkluk lain jenis n belon pernah ngrasain cinta jangan repot2 mikirin harm-halal!!
    mending cari aktipitas laen……daripada mikirn yang mubazir!! ya to?
    gitu aja kok rapot! *gusdur style!*

  11. Islamisasi pacaran yang berkualitas tinggi « M Shodiq Mustika Says:

    [...] Sebuah artikel berkualitas dari seorang penentang pacaran islami berisi usul istilah alternatif pengganti “pacaran islami”, yaitu istilah “jodohan”. Alasannya: “batasan ‘pacaran’ tidak pernah jelas dan karena “pacaran” sebagaimana yang dilakukan banyak orang jelas-jelas tidak Islami. … Dengan berjodohan, kedua belah pihak menyatakan keinginannya untuk saling menikah jika keadaannya sudah memungkinkan.” (Lihat Alternatif Pacaran: Jodohan? « Singularity on the Plane) [...]

  12. dehan cut3 Says:

    wakakakakak
    lucu…lucu…wah menarik juga web nya, keren lah. jodohan? boleh lah. tapi masalahnya ga banyak orang yang tau tentang jodohan. ayo, kasih tahu orang lain. geser pacaran di pasaran. wakakakak
    menurut saya, masalah umur, kalo sekiranya belum cukup umur(smp,sma), jangan dulu berpikiran buat pacaran lah. ntar aja kalo dah sekiranya mapan, baru boleh lirik2, trus tujuannya jodohan, jangan pacaran. ya gak?
    masih kecil kok sudah lirik2…huhahahaha…

  13. i nasir tianotak Says:

    kalau menurut ku sih..!! perjodohan itu pada saat kedua bela pihak sudah melakukan lamaran, jadi perjodohan itu semakin terikat.
    dan tidak menutup kemungkinan bahwa lamaran tersebut menyegerakan mereka menikah.
    itu akan lebih baik untuk kedua bela pihak.

  14. Kalau Johnnie Walker Lagi Ta’aruf « The Satrianto Show! Says:

    [...] Dapat poinnya, eh? P.S. Yang berikut ini asyik juga buat dikomen, lho: 1. Pacaran Islami, Yang Bener Aja! 2. 12 alasan mengapa bercinta sebelum menikah 3. Pacaran dan Zinah:MUTUALLY EXCLUSIVE 4. Pacaran? Basi Tau! 5. Alternatif Pacaran: Jodohan? [...]

  15. Hery Says:

    Istilah PACAR/PACARAN dalam Alkitab di Yeremia 13:21,22 dan dalam Kekristenan tidak dapat dipakai bagi mereka-mereka yang belum menikah. Karena bahasa asli (Ibrani/Aram) memberi pengertian bahwa etimologi (arti sebenarnya/awalnya) kata PACAR adalah teman hubungan intim/teman hubungan sex. Jadi istilah ini hanya dipakai bagi mereka yang sudah menikah sebagai suami-istri. Menikah itulah boleh pacaran; pacaran wajib dalam pernikahan; pacaran salah satu komponen penting dalam pernikahan. Tahap pergaulan muda-mudi yang berkenan di hadapan Allah adalah:
    1. Berkenalan
    2. Berteman
    3. Bersahabat/teman dekat/”teman spesial”
    4. Bertunangan
    5. Pernikahan (Pacaran)

    Semoga infromasi ini dapat bermanfaat untuk kita semua. Jesus Bless You All

  16. taufiq Says:

    aye setuju banget ma usulnya mas fuad, kalo cinta mah lamar aja terus jangan dipacari kan kasihan hidup dalam status tak jelas ( temen bukan istri juga bukan ????? ). jangan takut nikahin aja men Allah yang jamin kok rezekinya.

  17. taufiq Says:

    pacaran islami ?????????
    emang kalo ma’siat ada embel2 islami bisa jadi halal ?
    sekalian aja kita bikin judi yang islami, tul nggak ( he..he..4x)

  18. goest Says:

    hmm……ku rasa benar klo kita langsung lamar!!!

    lebih lagi klo dah tau calon martua,……………………………!!!!

    goest.jr.alie
    wassalam

  19. wirawax Says:

    hm… ini usul yang lebih ‘aman’ daripada pacaranislami.wordpress.com
    daripada mencomot istilah yg bikin polemik (’pacaran islami’) lebih baik bikin istilah baru yg… ….masih debatable juga..

  20. bayu Says:

    kita harus bener2 hati hati lo dalam menerimam sesuatu yg baru. KAlom sya pikir mmg pacaran islami itu ada, tp hanya pd saat setelah menikah….karena bohong saya katakan kita bisa menjaga segala batasan yang ada selama berpacaran untuk tidak melakukan hal hal yang tidak dibolehkan, minimal hati kita pasti gejolak gejolak yg mungkin bisa mendekatkan kita ke hal hal negatif………………..

  21. Ana Says:

    brarti,, dpt disimpulkn bahwa

    istilah pacaran islami itu g bener,,iya kan??
    karena memiliki makna ambigu…

    ta’aruf kan mksudnya kan mengenal siapa pun..
    kok bisa diartikan proses penjajagan sblm menikah???

    klo dpake istilah jodohan kok aneh jg???

    enaknya istilahnya apa ya????

    aq jd bingung bgt. . . .

  22. asan Says:

    ass wrwb. alow semua temen, pacaran islami?????wau katanya enak banget di denger yach sampe-sampe orang tua kita dah pada percaya dengan pacan islami. kalau mau yang islami lebih baik g usah pacaran lah…..langsung aja nikah, opssss tapi ingat sebelum u mutusin tok nikah ingat tuh apa u bener-bener dah siap secara lahir atau batin. pikir-pikir dulu……….. misal u mutusin belum siap tok menikah tapi keinginan ato rasa cinta kamu bener-bener berlebihan coba u puasa ja n deketin diri ma Allah n berdoa berikan jalan yang terbaik.
    okkkkkkk islam maha luas
    selamatkan generasi muda dari perbuatan yang kejam.
    met menghambakan diri ma Allah.okkkk

  23. sinyoegie Says:

    Dear

    Sejak masih remaja sinyo sudah tahu tentang perdebatan boleh tidaknya pacaran, bahkan saat internet semakin meluas perdebatan tentang ini semakin mudah ditemukan dan dibaca. Istilah yang digunakan pun mulai bertambah banyak.

    Sinyo awam tentang hukum Islam secara mendalam, namun cukup tahu bahwa ikatan resmi/syah antara dua insan berlainan jenis yang bukan sedarah hanya “pinangan” dan “nikah”.

    Selain itu maka ikatan dalam bentuk dan definisi apapun antara dua orang insan berlainan jenis yang bukan sedarah tidak resmi/syah secara Islam. Tentunya kita semua tahu apa yang dimaksud dengan “mengikatkan diri” tentunya.

    Nah daripada pusing, memikirkan pacaran boleh atau tidak, ayukk segera dipinang dan langsung nikah saja hehehe… ;) , kayak pengalaman sinyo.

    Salam
    Sinyo http://sinyoegie.wordpress.com

  24. sunaryanto Says:

    aslkm! ya pacaran dalam islam gak adah tuh ta’aruf kali yang ada. Sungguh mengejutkan yang terjadi di Indonesia sekarang ini, para remaj sudah terjerumus dalam hal-hal negativ dan pergaulan bebas. Salah satu solusinya hanya kembali kepada ajaran Islam yang hakiki. Perjodohan dalam Islam sudah diatur dalam al Qur’an dan hadits. Wahai para pemuda dan pemudi mari kita kembalikan kejayaan Islam seperti dulu. Mau menikah ngapain pacaran, buang-buang waktu dan yang paling utama adalah mendekati perbuatan zina. Wahai laki-laki carilah jodoh yang wanita sholihah maka hidupmu akan bahagia di dunia dan akherat. Sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang sholihah. Sebaliknya wahai para wanita carilah jodoh dari kaum adam yang soleh maka hidupmu akan bahagia dunia dan khususnya di akhirat. amin
    contac person 081807421200

  25. Pacaran = Anjing « andy_fajar007 Says:

    [...] justifikasi tersebut. Pertama-tama, kita telaah dahulu kenapa orang-orang (muda) pengen pacaran. Menurut adik kelasku, Agro yang jenius, alasannya adalah sebagai berikut: Dalam kehidupan sehari-hari, umumnya laki-laki berinteraksi [...]

  26. Alternatif Pacaran: Jodohan? « Singularity on the Plane Says:

    [...] Pacaran: Jodohan? This post has been moved to singularity.agronesia.net: “Alternatif Pacaran: Jodohan?”. Please visit the new [...]

  27. Lex dePraxis Says:

    Salah seorang sahabat kami baru saja menulis sesuatu tentang Taaruf dan Pacaran, silakan di cek.

  28. be smile Says:

    Assalamu’alaikum….
    Perojohan dalam Islam? fine-fine aja, tapi…..
    anaknnya mw gk? sholeh ngk pilihan orang tua?
    maaf yee.. lw di t4 aku, banyak kalee orang tua yang njodoh2in anaknya padalah usianya masih….

  29. Afan Says:

    Humm.. Pertanyaanny adlah “ngapain jg tuh anak (smp, sma, mhswa) pd mkirin nikah? Bkanny ngurusin blajar dlu yg bner!! Gak da lg yg bsa dpkirin ap??..” *narik nafas pnjang*
    Justru mustinya tgas ortu2 bwt mbri pndidikan yg bner, slah stuny adlh mgnai bhaya pcaran n’ bgmna bgaul dg lwan jnis..
    Adpun, klo drasa ‘mentok’, kan dlm islam udh ad istlah ‘khitbah’ (mlamar tp bkn tunangan), jd gak plu tmbah istilah bru ‘pjodohan’ sgala..
    Fungsi khitbah jg sma, mengikat tp dg cra yg syar’i, udah ada prosdur2ny..
    Mngnai tenggang wkt smpai ’siap mnkah’ stelah khitbah, bsa dmusyawarahkeun antara kdua phak, gtu lox..

Leave a Reply