Archive for the ‘Life’ Category

A unique Japanese captcha

Friday, May 9th, 2008 by Agro Rachmatullah

Everybody knows captcha, the verification image we meet everytime we register something to help keep spammers off the board. It usually involves retyping a badly distorted or other visually-abnormal text. Boring, because What You See Is What You Type (WYSIWYT).

Every once in a while someone came up with a clever CAPTCHA, like those simple arithmetic CAPTCHAs where you are asked to do an addition.

Recently, I registered on a Japanese site FC2. It has this never-before-seen (by me) CAPTCHA:

Japanese kana captcha

You, got it right! They spell a series of numbers in kana and we need to retype it using the all-too-familiar 1 2 3. Of course, the image is still littered with those bacteria we’ve been accustomed to.

If you’re studying Japanese, please try to answer in the comments. I’ll give you… a nice reply comment :).

PS: CAPTCHA is actually an acronym so it is written in capitals. However I very much prefer it to write it like: “captcha”.

Damn, now I can’t invite just about anyone to Mixi!

Thursday, April 17th, 2008 by Agro Rachmatullah

Probably because of my previous post advertising free Mixi invites, the staff decided to take a measure!

Now to register as a new Mixi user, you need to enter that thing called “handphone mail address”. Simple, except that I don’t even know what it is. I have a handphone, and all I get with it is the “phone number”. You can’t let the field empty. You can’t fill it with a gmail or yahoo address either.

With some chittery-chat on 2ch irc (#japanese), I got someone to tell me that one valid such address is something@ezweb.ne.jp. I put a random “something”, and it did succeed.

Until I realized that other than confirming from your normal email, you need to confirm from that dreaded “handphone mail address”.

In the end, I only managed to invite 1 person to Mixi… He was lucky to sign up fast.

I’m on Mixi! こんにちはミクシィの利用者の皆さん。。。

Saturday, March 29th, 2008 by Agro Rachmatullah

mixi

Friendster. Everyone talks about it, everyone’s in it. However, I thought it was rather useless so I never bothered to make an account. Well, until one day my friend (Firdaus IIRC) pestered me or lets say, forced me to death. ‘It won’t do no harm’, or something like that. Obviously not with a grammatically-unsound (or so they say) construct such as the double negative.

So, to spice things up a bit, I decided to make it a pet social experiment. ‘Let’s see how many friends I can get if I just accept friend invitations…’, I thought. That means all my friends on my friendster list asked me to be friends first. Well, except for one, the almighty guitar kamisama, my high school mate, Andre (who can resist not adding him as a friend?). Right now I have 62 friends. Quite popular, I reckon.

But I jumped from my chair, unliterally, hearing a japanesepod101 podcast talking about Mixi, a friendster-like site but in Japanese. Naturally I was interested to join, as I’m currently a Nihongo student.

Mixi’s registration system is invitation-based, much like the beta gmail (right now gmail should be around version 3). They say that it would allow them ‘to create a comfortable place’, or to paraphrase it, ‘to make you suffer finding someone who owns a Mixi account’.

Getting someone to invite wasn’t that hard for me. Well, if you count several days as ‘not that hard’, that is. On the podcast, Peter and the gang told that one only need to ask them. So I visited the forum and appropriately posted on an already-existing ‘I want a Mixi account’ thread. But it’s a sticky thread so it’s always on the top which unfortunately made it less glaring if a new person posted there. n days passed without a reply.

I was sure I would get a reply by just directly mailing the staff or PMing people that gave mixi invites on that thread, but at that point I couldn’t wait longer and wanted a more real-time response. So I visited the place where one can easily encounter a random Nihonjin and chat with them, irc.2ch.net#japanese (and they actually speak English there if you’re still on your kanas)! a_a was kind enough to invite me, and long story short I’m now a Mixi citizen!

For me, the registration process was relatively easy to follow. The menus are also fully readable. However, the personal content, now that’s where the fun begins! I already found someone using a never-before-encountered non-ministry-approved kanji for eel 鰻 (unagi) on his ‘favorite food’ list.

If you need a Mixi invite, and can assure me that you’re not using it solely for the purpose of finding random Japanese girl pics, I’ll gladly confer it.

022-*

Friday, March 21st, 2008 by Agro Rachmatullah

今、バンデュングにいるよ!夢の都市?(笑)

就活するところだよ!難しそう。。。

職業決めたらこのブログにもう一回筆を執るつもりだよ。

Wish me luck…

A plane of dust

Wednesday, March 19th, 2008 by Agro Rachmatullah

Membuka pintu. Suara derikan terdengar.

This deserted place smells musty.

A cleaning up should be in order…

とにもかくにも、僕はまだ生きてるぞ!

Plastik sebagai alat makan

Saturday, December 15th, 2007 by Agro Rachmatullah

Di halaman Wikipedia tentang daftar peralatan makan, kita bisa menemukan sendok sampai sumpit. Walaupun begitu, ada satu alat makan yang biasa kugunakan namun tidak terdaftar di situ: plastik!

Plastik untuk makan

Plastik menggabungkan kenyamanan makan menggunakan tangan dengan kepraktisan tidak perlu mencuci tangan maupun alat makan. Cara mendapatkannya juga sangat mudah, tinggal meminta “plastik minum” ke penjual makanan setelah kita membayar.

Inilah tata cara makan menggunakan plastik:

Mengeluarkan isi plastik

Pertama, turn the plastic inside out. Bahasa Indonesianya, buatlah agar permukaan dalam plastik menjadi permukaan luar. Alasannya, ada kemungkinan permukaan luar aslinya telah terkontaminasi berbagai debu dan kuman. Permukaan dalam aslinya mestinya tidak pernah terekspos lingkungan luar sehingga lebih higienis.

Langkah ini belum tentu selalu berhasil dengan mudah. Kadangkala, kita mendapatkan plastik gagal alias permukaan dalamnya saling merekat. Terus saja menggesek-gesek sampai berhasil melepas rekatannya atau sampai bosan.

Memasukkan tangan ke plastik

Setelah itu, masukkan tangan kamu ke dalam plastiknya. Langkah ini juga belum tentu langsung berhasil, sebab kadang-kadang penjual makanan tidak punya stok plastik yang cukup besar. Kalau plastiknya terlalu kecil, coba saja regangkan sambil berharap plastiknya tidak robek.

Makan dengan plastik. Itadakimasu!

Setelah semua persiapan tadi, tinggal acara utamanya yaitu makan! Jangan lupa membuang sampahnya pada tempatnya.

Sebagai alat makan yang sekali pakai buang, sepertinya kelemahan satu-satunya alat makan ini adalah sampah yang dihasilkan. Ya, alat makan ini tidak ramah lingkungan! Di saat ada orang-orang tertentu yang membawa kantong sendiri untuk berbelanja di swalayan (untuk mengurangi jumlah penggunan plastik yang ujung-ujungnya menjadi sampah), makan menggunakan teknik ini rasanya sedikit bersalah. Baikkah menyebarkan meme (baca: mim) “plastik makan” ini di Internet?

Seberapa luaskah penggunaan alat ini? Seringkali, waktu aku minta plastik kepada pedagang yang baru kukenal pun, ada yang menjawab “Oh, buat makan ya?” Mungkin penggunaannya tidak sesedikit yang kuduga. Tapi selama ini, pengguna lain yang pernah kulihat hanyalah beberapa temanku, dan pasti saat makan bareng aku. Dengan kata lain, saat aku yang pergi beli makanan, mereka nitip plastik juga karena sebelumnya telah melihat aku menggunakannya. Misalnya saat makan malam YIC di perpus sebelum melanjutkan bertanding lagi, atau bersama teman lain saat sedang Wifi-an di kampus.

Kalau kamu belum pernah mencobanya, ayo coba sekali-kali…

Bunting, HP Frenku itu…

Tuesday, December 4th, 2007 by Agro Rachmatullah

Waktu handphone pertamaku rusak, aku dibelikan Fren oleh bapakku. Inilah keadaanya saat ini:

HP Fren

Model HPnya Samsung sekian sekian dan menggunakan CDMA. Dilihat dari luar sepintas sih sepertinya tidak ada yang aneh. Tapi kalau dibuka:

Baterai HP Fren yang keluar dari tempatnya

Loh, kok baterainya njengking dari posisi normalnya? Inilah alasannya:

Baterai HP cembung

Kalau diperhatikan baik-baik, terlihat bahwa baterai HPnya cembung, seperti perut wanita hamil! Sial, aku memang sering meletakkan HPku di dekat HP-HP lain, tapi aku tidak menyangka hasilnya akan seperti ini. Ada yang lebih mengerikan lagi:

Baterai HP retak, siap meledak kapan saja

Salah satu sisinya retak, seperti telur yang akan menetas! Aduh, sudah berapa bulan ini ya…

OK, kita kembali serius karena ini masalah fatal. Ya, baterai ini sepertinya bisa meledak kapan saja kalau dibiarkan terus beroperasi! Kalau meraba baterainya langsung, kecembungannya benar-benar terasa besar dan mengerikan.

Memang baterai HP ini sudah cukup lama bermasalah. Terlalu gampang ngedrop! Tapi aku nggak pernah kepikiran kalau baterainya sampai menggembung seperti ini.

Beberapa waktu yang lalu, saat sedang makan di warung lesehan sama temanku, temanku itu membuka HPnya dengan alasan yang aku lupa. Aku juga ikut-ikutan membuka HPku, dan jreeeeng betapa kagetnya aku saat melihat baterai HPku seperti ini. Untung saja ketahuan waktu itu, soalnya kalau dibiarkan terus bisa-bisa aku jadi korbannya! Tahu kasus baterai-baterai laptop Sony meledak yang menyebabkan recall besar-besaran? Ngeri…

Sampai aku beli baterai baru, aku nggak akan nyalain HPku. Ah teknologi emang bikin pusing… Daripada capek mikirin HP, mending dengerin musik H!P dulu deh… (Pun, pun, pun… Apa ya bahasa Indonesianya?)

Pe-nanti-an

Friday, November 30th, 2007 by Agro Rachmatullah

Kami, kami, kami
Aku menunggu kertas itu
Menanti penilaian Tuhan
Sampai rambutku memanjang
Kami, kami, kami

- Agro

Ah, capeknya… Berkas terakhir yang aku perlukan untuk yudisium adalah nilai TA asli yang bisa diperoleh di sekretariat program studi S1 matematika. Hanya saja, petugasnya yaitu Mba Mira tidak ada!!!

Aku menunggu di dekat pintu masuk ruangan tersebut. Ada colokan listrik, meja, dan kursi di situ. Dengan laptop, semuanya bisa saja jadi sempurna. Yang kurang hanyalah koneksi Wifi yang fungsional.

Sambil duduk dan menyalakan komputer, aku diganggu oleh suara dak-duk-duk dan srek-esrek-srek beberapa tukang bangungan yang sedang merenovasi toilet di belakangku. Bau khas situs konstruksi pun sesekali tercium tajam. Aku menunggu walaupun kedatangan Mba Mira juga “belum pasti”, kata petugas lainnya. Tertulis di meja Mba Mira bahwa dia sedang mengikuti “PELATIHAN DI SMILE GROUP”. Apa mungkin dia kurang ramah ya sehingga dikirim oleh kantor mengikuti pelatihan tersebut :)?

Niatnya, sambil menunggu aku mau menulis komentar tentang kertas pengumuman yang terlihat dari tempatku duduk, tentunya untuk ngejar setoran blog. Tapi saat mulai mengetik, datang teman satu kelompok dari mata kuliah “Pengantar filsafat ilmu dan sejarah matematika” yang dulu pernah kuambil. Dia sudah lulus dengan topik TA aljabar. Saat kutanya lebih lanjut tentang apa yang ditulis, dia memulainya dengan pertanyaan, “Tau ring?” Pertanyaan bagus, yang sayangnya hanya bisa kujawab dengan “Cuma pernah denger.” “Kalau grup?”, tanyanya lagi. “Cuma pernah denger juga.” Setelah tahu bahwa aku tidak mengerti apa-apa tentang aljabar, dia menjelaskan TA-nya dengan sangat bijak dan mudah dimengerti, “Ya, pokoknya tentang sesuatu yang abstrak di aljabar.” Sial, beginilah nasib anak MIPA yang tidak berpendidikan, yang tahunya malah “grup” idol macam Momusu

Singkatnya, aku akhirnya ngobrol sambil menunggu Mba Mira. Ngomongin pendadaran. Kata anak matematika temanku itu, dia dosen pembimbingnya dua dan dosen pengujinya tiga. Ngomongin wisuda. Katanya dia pernah ngehadirin temen-temennya wisuda, nunggu di luar GSP. Saat momen siiiiing muncul, cuaca pun diobrolin karena kebetulan memang sedang mendung. Dan semua ini berakhir dengan buruk: Mba Mira tidak datang. Karena ini terjadi Jum’at, terpaksa deh menunggu minggu berganti untuk mencari Mba Mira lagi. Tentang pengumuman yang sebetulnya mau kukomentarin, kapan-kapan aja, untuk saat ini kusimpan dulu di “box” bahan blog. Tahu struktur data box kan? First in, random out (karena ngambilnya sambil ngubek-ngubek).

Urusan setelah pendadaran memang repot…

Lulus?

Thursday, November 22nd, 2007 by Agro Rachmatullah

合格 - passing an exam

Ah, akhirnya lulus juga ujian pendadaran. Tinggal merevisi dan berbagai urusan administratif yang katanya malah jauh lebih mengerikan dari pendadaran itu sendiri. Ucapan terima kasihnya nanti saja, sekalian kalau wisuda :).

Ngomong-ngomong, sudah lama sekali blog ini terlantar. Posting sebelumnya adalah… Waks! 5 bulan yang lalu! Selama itu pula, spam-spam mulai dari link-link nggak jelas sampai cerita porno multiparagraf tumbuh berjamuran di sudut-sudut remang bagian comment blog ini. Bersih-bersih sudah selesai, jadi tinggal… Menghidupkan?

Tapi aku nggak niat ngomongin kenapa blog ini bisa terlantar begitu lama. Kalau isinya flashback melulu, rasanya seperti orang tua yang membuat autobiografinya karena merasa sudah hampir mati. Masa depanku masih terbentang panjang to? Lebih baik menulis tentang apa yang sedang kulakukan saat ini, dan mimpi-mimpi masa depan itu…

Jadi, mulai saat ini, blog ini akan menyediakan lagi hidangan rutinnya setiap Selasa dan Sabtu. Stay tuned…

Indosiar melakukannya lagi: Virus SCA

Tuesday, May 15th, 2007 by Agro Rachmatullah

virus

14 Mei 2007. Aku lapar, jadinya kumasak sebungkus mi instan rasa ayam bawang. Nyetel TV, eh… Kebeneran ada Ichi Rittoru no Namida di Indosiar.

Di episode ini, keluarga Aya berdoa di kuil. Di doa tahun baru itu, adik perempuan Aya yang terkecil memohon agar kakaknya cepat sembuh. Kali ini Aya sudah harus menggunakan kursi roda.

Walaupun menemui kesalahan penerjemahan di episode perdana, kali ini aku sama sekali nggak berniat mencari-cari kesalahan. Pokoknya ngisi perut, abis itu balik ke komputer lagi. Tapi…

Penyakit yang diderita Aya, Spinocerebellar ataxia (SCA), adalah penyakit genetik yang mempengaruhi cerebellum (bagian otak yang mengendalikan aktivitas otot). Kata kuncinya adalah ‘penyakit genetik‘, yang berarti bahwa ini penyakit keturunan.

Di episode ini, ada adegan seminar para dokter dan peneliti. Di versi Indosiar, sang pembicara mengatakan yang kurang lebihnya adalah ‘…penelitian lebih lanjut diharapkan dapat mencegah menyebarnya virus penyakit ini’. Aduh! (Penyakit genetik disebabkan oleh (satu atau lebih) gen tertentu, bukannya virus)

Ah, masalah penerjemahan payah memang tidak ada habis-habisnya, mulai dari anak kuliahan yang ogah-ogahan nulis tugas sampai stasiun televisi besar seperti Indosiar… Aku kemarin nyoba ngirim e-mail ke Indosiar tentang kesalahan di episode pertama. Akankah direspon?

PS: Di One Liter of Tears dikatakan bahwa Aya mengidap Spinocerebellar degeneration (SCD). SCD adalah sebutan lama untuk SCA yang disebabkan gen autosom dominan. (kalau nyari ‘Spinocerebellar degeneration‘ di Wikipedia bahasa Inggris, kamu akan dibawa ke artikelnya ‘Spinocerebellar ataxia‘)