Archive for the ‘Movie’ Category

Kenapa aku (dulu) tidak mau jadi dokter

Saturday, May 5th, 2007 by Agro Rachmatullah

Cerebellum highlighted in blue

Aku barusan ngeliat (sebagian) One Litre of Tears episode 1 yang ditayangin Indosiar. Tahu kan? Ini drama menyentuh yang diangkat dari buku harian Kitou Aya, pasien Spinocerebellar ataxia (SCA). Pernah dijiplak Indonesia jadi Buku Harian Nayla (jiplak, bukan adaptasi, wong sama sekali tidak mengakui sumber cerita aslinya).

Aku sebelumnya udah pernah namatin drama yang dibintangi Sawajiri Erika ini. Minjem CD-nya adikku, suara asli Jepang dengan fansub Inggris. Tadi nonton soalnya penasaran aja, seperti apa versi dubbing-nya. (nggak berencana nonton lanjutannya, harus ngerjain TA dan nggak mau numpahin liter ke-2)

Secara umum dub-nya OK lah. Tapi aku cukup kaget dengan penyebaran informasi yang salah di beberapa menit pertama. Versi Indosiar menyebutkan bahwa pengidap penyakit ini akan “susah menggerakkan anggota tubuh, susah berbicara, dan mengalami gangguan berpikir” (kira-kira, nggak kurekam soalnya). Lalu belakangan disebutkan bahwa perlahan-lahan pengidap juga akan mengalami “…hilang ingatan” (kira-kira juga).

Aku bukan dokter, tapi dari yang kubaca di Wikipedia:

Generally, a sufferer retains full mental capacity but may progressively lose physical control.

Kata Wikipedia, mental (termasuk kemampuan bepikir dan ingatan) tidak terganggu, hanya saja perlahan-lahan kendali fisik bisa hilang (kesulitan berbicara, menggerakkan tangan, dll). Jadi, skor akurasi teknis -1 buat Indosiar. Seingatku, terjemahan fansub yang kutonton juga tidak menyinggung-nyinggung tentang gangguan pada fungsi mental. Pingin denger dialog Jepang aslinya tapi CD-nya lagi nggak di sini.

SCA adalah penyakit yang belum bisa disembuhkan. Selain 1 Litre of Tears, aku juga pernah nonton/baca beberapa cerita lain tentang penyakit-penyakit yang tak bisa disembuhkan. Film A Beautiful Mind diangkat dari kisah nyata John Nash, matematikawan penerima Nobel Ekonomi yang terkena Schizophrenia (ada adegan Igo-nya!!!). Film The Notebook merupakan adopsi dari novel dengan judul yang sama, kali ini tentang Alzheimer. Ada juga game novel interaktif yang mengangkat gagal ginjal kronis.

Di cerita-cerita tersebut, kita diajak menangis melihat betapa tidak berdayanya manusia. Ini abad 21 dengan segala kejayaannya seperti pembuktian Teorema Terakhir Fermat, disket holografik 3.9 TB, dan teleportasi kuantum. Tapi kita masih hidup dihantui berbagai penyakit yang belum ada obatnya. Di manakah sirup sakti Doraemon yang sekali teguk bisa menyembuhkan semua macam penyakit?

OK, kembali ke… uhm… inti dari postingan ini. (aku nggak punya laptop)

Apa cita-cita pertamaku? Jadi dokter kandungan. Ya, benar. Kok bisa? Karena saat ibuku bertanya “Agro besar mau jadi apa?”, aku diajarkan jawaban “dokter kandungan”. Omonganku waktu itu masih belum sempurna, jadi mungkin yang kuucapkan semacam “o-te… andunan”.

OK, mungkin itu bukan cita-cita. Aku hanyalah bagai pensistesis suara seperti Festival. Waktu itu aku masih terlalu kecil untuk tahu apa itu “cita-cita” dan “dokter kandungan”.

Setelah aku cukup besar untuk membayangkan berbagai cita-cita, anehnya “dokter” sama sekali tidak pernah kuminati. Orang-orang banyak yang mengatakan hal-hal seperti “jadi dokter nanti kaya…”, “jadi dokter banyak duitnya…”. Mungkin itu yang membuatku anti. Bukan anti duitnya, tapi karena orang-orang HANYA menekankan duitnya, jadi seakan-akan dokter hanyalah mesin pencetak duit yang membosankan. Pasien bertanya, kita mendiagnosis dan memberi obat, orang sembuh, dan kita dapat duit. Aku milih yang lebih menyenangkan aja misalnya bikin komik (salah satu cita-citaku zaman SD dulu).

Tapi, cerita-cerita tentang penyakit yang tak bisa disembuhkan tersebut merubah sudut pandangku tentang pekerjaan di dunia kedokteran. Sebetulnya sejak sebelumya aku tahu bahwa ada penyakit yang belum bisa disembuhkan (contoh populernya AIDS), tapi itu hanyalah pengetahuan semata yang tidak menyentuh. Di lain pihak, dengan mengenal sosok seperti Aya hati ini benar-benar sakit karena aku tidak bisa berbuat apa-apa melihat dia menderita. Ingin rasanya bisa membantu dia. Ya, aku menjadi terbuka pada alternatif di dunia kedokteran selain menjadi buruh pencetak duit yang hidup bahagia ever after. Alternatifnya adalah meneliti penyakit-penyakit ganas tersebut, mencari obat yang menjawab rintihan orang-orang yang masih menyimpan sebenih harapan. Sama-sama bertujuan menyembuhkan layaknya dokter pada umumnya, tapi yang ini jauh lebih menantang dan menarik buatku.

Ah, tapi manusia itu terbatas. Kalau kita mencoba menjadi segalanya, kita malah tidak akan jadi apa-apa. Aku nggak berencana pindah ke kedokteran, tapi paling tidak aku sekarang lebih mengapresiasi dunia tersebut. Toh perkembangan di satu bidang ilmu akan mempengaruhi bidang lainnya kan? Laser, mainan para fisikawan, kini jadi alat penting di dunia kedokteran. Proyek komputasi terdistribusi Folding@home membantu usaha pencarian obat kanker. Jadi aku bisa sedikit puas, karena berada di dunia MIPA yang cukup dekat dengan bidang kedokteran.

強く前へ。。。